Minggu, 30 Maret 2008

Technology of Drinking Water Treatment




PERANCANGAN ALAT "THREE DIMENSION SYSTEM"


Kegiatan yanag dilakukan dalam perancangan alat disajikan pada atabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2
Hasil Kegiatan Perancangan alat penyaringan air tiga dimensi

No Kegiatan Hasil
1. Mendisain alat
Dimensi I:
Besi cor panjang : 1,5 meter diameter = 12 mm
Besi cor panjang : 1,2 meter diameter = 5 mm
Besi pengikat panjag : 50 meter diameter = 2 mm
Dimensi II :
Tinggi Pipa pralon I : 200 cm diameter = 6 ince
Tinggi Pipa pralon II : 160 cm diameter = 6 ince
Tinggi Pipa pralon III : 120 cm diameter = 6 ince
Tinggi Pipa pralon IV : 70 cm diameter = 6 ince
Tinggi Pipa Pralon 1 : 150 cm diameter = 1/2 ince
Tinggi Pipa Pralon 1 : 110 cm diameter = 1/2 ince
Tinggi Pipa Pralon 1 : 80 cm diameter = 1/2 ince
Terdiri dari 4 bagian utama:
Pipa pralon I tempat desinfektan
Pipa pralon II penyaringan 3D-I
Pipa pralon III penyaringan 3D-II
Pipa pralon IV penyaringan 3D-III

2 .Pembuatan alat
Bahan : Pipa Pralon
Dimensi : Tinggi bervariasi lihar ukuran diatas
Kapasitas : pipa I = 50 liter air tanpa mengalir
Pipa II = 40 liter
Pipa III = 30 liter
Pipa IV = 10 liter
Bahan : Pipa paralon besar 4 dan kecil 3 batang
Dimensi : Panjang sesuai ukuran diatas
Diameter 6 ince dan ½ ince

Bahan : Kran 3 buah
Dimensi :Diamter ½ ince
Bahan : Penutup pipa 8 buah
Dimensi : Diamter 6 ince 4 buah dan
diameter ½ ince 4 buah
3
Pembuatan kerangka penunjang (Bantalan)
Bahan : krikil 10 ember ukuran 5 liter +semen 1 sak + pasir ¼ kubik
Dimensi : Tinggi : 0,3 meter
Panjang : 1,5 meter
Lebar : 0.4 meter
Bahan : Kayu balok 1 batang, panjang 4 meter
papan 2 lembar, panjang 4 meter
Dimensi : Ukuran : 30 x 150 x 40 cm

3.Analisis Biaya
a. Biaya tetap meliputi
1. Biaya pembuatan
2. Biaya pemeliharaan
b. Biaya tidak tetap:
1. Biaya pemakaian listrik (bila ada)
2. Biaya perbaikan
4. Uji Coba Alat dan Sosialisasi
Untuk mengetahui unjuk kerja alat, maka dilakukan uji coba dan memperkenalkan alat ini memalalui sosialisasi dalam bentuk penyuluhan dan demonstrasi pembuatannya pada masyarakat dan mahasiswa, pemuka masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Patobong yang merukapan salah satu desa di kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang yang kualitas air permukaan dan air tanahnya sangat jelek sehingga memerlukan penanganan khusus.
B. Khalayak Sasaran
Khalayak sasaran dalam penerapan IPTEKS adalan masyarakat di di desa Patobong yang sumber air bersihnya banyak mengandung Fe, Mn, Cl, Bau, warna, Kekeruhan CaCO3 dan bakteriologis.
Masyarakat yang dijadikan sasaran utama adalah ibu rumah tangga, tokoh-tokoh masyarakat atau ulama dan guru SD. Pada umumnya masyarakt di desa Bonto Marannu adalah memanfaatkan air bersih dari, Sumur gali dan sumur bor yang banyak mengandung Fe dan CaCO3. Keterlibatan ibu-ibu rumah tangga karena ibu rumah tanggalah selalu terlibat langsung dalam penggunaan air di rumah. Sedangakan keterlibatan Ulama adalah dikarenakan bisa menyalurkan aspirasi ini kepada santrinya dan bahkan kepada khalayak luas, kalau ulama dalam masyarakat di Sul-Sel khususnya masyarakat di Desa Patobong sangat disegani dan didengarkan petuah-petuahnya. Kemudian ketertiban guru SD, disini dimaksudkan agar murid SD yang ada di wilayah tersebut. Sedangkan tokoh masyarakat adalah khalayak yang paling penting dalam pembuatan percontohan pengolahan air karena peranan tokoh masyarakat adalah memberi inspirasi kepada masyarakatnya dalam hal pengadaan serta pemanfaatannya. Tokoh masyarakat di sini berfungsi ganda, ia sebagai pelaku dan sekaligus sebagai obyek atau contoh dari masyarakat itu sendiri. Sehingga apa yang direncanakan dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang diharapkan dapat tercapai.
C. Keterkaitan
Kegiatan yang dilakukan ini mempunyai keterkaitan dengan lembaga lain yaitu
1. Lembaga Pemerintah dalam hal Ini pemerintah setempat yaitu aparat kelurahan dan kecamatan.
2. Depkes ( Dinkes Kesehatan Propinsi SUL-SEL, dan Dinas Ksehatan TK.II Kota Pinrang sebagai pengawas kualitas air dan sarana sanitasi lainnya dan pencegahan terhadap penyakit menular. Serta memberi penyuluhan kesehatan tentang bahaya akibat mengkonsumsi air yang tidak sehat.
3. P U ( Departemen Pekerjaan Umum )
Yang berperan sebagai teknisi dan pembuatan alat sanitas.
4. Depag ( Departemen Agama), yang mempunyai peranan dalam menyiarkan
kebersihan dengan metode pendekatan keagamaan.
5. Depdikbud, peranan Departemenalam Pendidikan dan Kebudayaan di sini adalah terutama mengajarkan kepada setiap murid agar menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Telah banyak kasus di tanah air kita ini mengenai adanya beberapa murid keracunan makanan dan muntaber atau diare setelah menkonsumsi makanan jajanan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan penyakit yand ditularkan melalui air. Kalau dihibungkan dengan peningkatan SDM, maka hal yang utama harus diperhatikan adalah bagaimana cara menyehatkan masyarakat terutama anak-anak usia sekolah.
D. Metode Kegiatan
Metode kegiatan yang dilakukan adalah demonstrasi pembuatan Pengolahan air dengan Sistem TIGA DIMENSI dengan disaksikan oleh masyarakat setempat.
E. Rancangan Evaluasi
Prinsip evaluasi adalah mengetahui keberhasilan kegiatan yang di lakukan melalui demontrasi pembuatan prngolahan air payau/asin menjadi air tawar. Evaluasi yang di dilakukan pada awal pelaksanaan program pada saat kegiatan di laksanakan maupun pada akhir program. Evaluasi pada saat pelaksanaan yaitu bahwa ada sebagian masyarakat yang ingin terlibat langsung dalam pembuatan tersebut. Kemudian evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan setelah 1-3 bulan dengan penilaian bahwa ada masyarakat lain yang membuat pengolahan serupa seperti yang dicontohkan dan digunakan dengan baik.

HASIL DAN PEMBAHSAN

A. Konstruksi Sistem Tiga Dimensi
1. Sistem Tiga Dimensi
Pengolahan air dengan menggunakan system tiga dimensi yaitu pengolahan air bersih dan air minum yang mempunyai tiga dimensi pengolahan air sebagai berikut:
Dimensi pertama, air yang kotor terlebih dahulu didesinfektan dengan menggunakan CHLOR/kaporit. Kemudian air yang telah didesinfektan lalu disaring dengan menggunakan filter kasar yang terbuat dari alumunium (kaleng coca-cola) yang telah dilubangi dengan diameter 1-1,5 mm untuk menyaring benda-benda kasar.Kemudian dibagian bawanya terdapat ruang untuk pengendapan dengan gaya gravitasi.
Dimensi kedua, air yang telah diendapkan tetapi masih banyak koloid-koloid maka dilakukan koagulan/flokulasi. Setelah iu lalu dimasukkan ke dalam bak/pipa selanjutnya dengan menggunakan saringan yang lazim digunakan seperti kerikil, pasir atau abu sekam dari padi yang berwarna putih. Dibagian bawanya lagi ada tabung khusus untuk karbon aktif sebagai bahan absorben (untuk daerah pedesaan bisa menggunakan arang batok kelapa atau arang batok kemiri yang telah di haluskan atau dalam bentuk butiran).
Dimensi ketiga, air yang telah disaring pada bagian (b) di atas lalu dimasukkan ke dalam tabung/pipa di situ dilakukan penyaringan akhir dengan menggunakan filter paper (kertas saring) yang dapat menyaring bakteri dan partikel halu yang masih sempat lolos dari dimensi 1 & 2. Kemudian dibagian bawa ada dimensi tiga tersedia alat pemanas bila dibutuhkan.
Kelebihan dari pengolahan air dengan sisten tiga dimensi ini adalah air yang dihasilkan bisa langsung dimunum tampa melalui pemanasan atau zat lain.
1. Air kotor
2. Desinfektan
3. Penyaringan
4. Pengendapan

1. Koagulasi
2. Filtrasi (kerikil, pasir, Abu sekam)
3. Absorpsi dengan karbon aktif (arang batok kemiri/kelapa)

1. Saringan kertas
2. Pemanasan (bila Perlu)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran

B. Hasil yang Diperoleh
Bila dilihat dari besarnya penurunan kadar zat besi ( Fe ), Calsium carbonat (CaCO3), Chlor (Cl), Mangan (Mn), bau, kekeruhan, warna dan bakteriologis setelah melewati Sisten Tiga Dimensi (3D) adalah bahwa air tersebut dapat memenuhi persyaratan air minum sesuai SK. Menkes RI no. 207 tahun 2002.
Penggunaan Sistem Tiga Dimensi selain untuk menurunkan kadar zat besi ( Fe ), Calsium carbonat (CaCO3), Chlor (Cl), Mangan (Mn), bau, kekeruhan, warna dan bakteriologis dalam air hingga memenuhi standar Permenkes No. 207 tahun 2002 tentang air minum maka secara langsung masalah sanitasi lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat akan dapat diatasi khususnya dalam hal :
1. Mengurangi/ menghilangkan warna kuning kecoklatan pada air.
2. Menghilangkan rasa dan bau logam yang amis pada air.
3. Menghilangkan bakteriologis dalam air
Dengan membaiknya kualitas air yang digunakan masyarakat maka sebagian masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi masyarakat dapat teratasi dan secara langsung akan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat khususnya yang menggunakan air yang telah memenuhi syarat kesehatan.
Membaiknya kualitas air yang berdampak pada membaiknya kesehatan masyarakat bukanlah suatu hal yang mustahil karena dengan menurunnya kandungan zat besi ( Fe ) dalam air berarti sebagian persyaratan kualitas air bersih dengan parameter kimia yang telah memenuhi syarat kesehatan akan berpengaruh pada :
1. Pertumbuhan mikroorganisme dalam air dapat dikurangi.
2. Dalam jangka panjang penggunaan air dengan kadar zat besi yang rendah sesuai standar Permenkes RI akan mencegah timbulnya gangguan otak pada manusia, karena mengkonsumsi air dengan kandungan zat besi ( Fe ) yang melampaui standar permenkes RI akan menimbulkan racun bagi manusia.
3. Mendorong setiap orang untuk menggunakan air sesuai kebutuhannya setiap hari tanpa merasa khawatir akan kualitasnya baik fisik maupun kimia ( khususnya Fe ) sehingga penyakit yang disebabkan kurangnya air untuk pemeliharaan hygiene perorangan ( Water Washed Disease ) akan dapat dihindari.
Penggunaan Sistem Tiga Dimensi pada sumur gali dengan kandungan zat besi (Fe), Calsium carbonat (CaCO3), Chlor (Cl), Mangan (Mn), bau, warna, kekeruhan dan bakteriologis tinggi selain untuk memperbaiki kualitas air sehingga kesehatan masyarakat akan selalu terjamin dengan penggunaan air yang memenuhi syarat kesehatan penerapan teknologinya dapat diterima dan dilakukan sendiri oleh masyarakat.
Pembuatan satu 3D sangat mudah, murah dan bahan-bahannya dapat diperoleh di masyarakat dan tidak memerlukan suatu keterampilan khusus dalam pembuatannya serta mudah perawatannya dibanding dengan cara lain seperti saringan pasir, cascade aerator dan penggunaan koagulan yang perawatan serta bahan kimia penunjang untuk menurunkan kandungan zat besi ( Fe ), Calsium carbonat (CaCO3), Chlor (Cl), Mangan (Mn), bau, warna, kekeruhan dan bakteriologis dalam air.
Bagaimanapun baiknya suatu teknologi bila tidak ditunjang dengan partisipasi dari masyarakat untuk memanfaatkannya maka dampaknya tidak akan mendukung peningkatan kesehatan masyarakat.
Oleh karena itu peranan petugas kesehatan baik ditingkat Puskesmas maupun Kabupaten dan Kota sangatlah diharapkan untuk mengsosialisasikan penggunaan 3D ini sebagai salah satu cara terbaik dalam menurunkan kadar zat besi (Fe), Calsium carbonat (CaCO3), Chlor (Cl), Mangan (Mn), bau, kekeruhan, warna dan bakteriologis dalam air
C. Faktor Pendorong dan Penghambat
1. Faktor Pendorong
a. Kegiatan ini mendapat dukungan dari pemerintah setempat khususnya Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pinrang , terbukti menyuruh memasukkan proposal ke Pemda untuk diteruskan ke setiap kecamatan agar pengolahan air bersih ini bisa diterapkan di tingkat rumah tangga.
b. Alat ini dapat dibuat oleh masyarakat sendiri dengan biaya yang tidak terlalu mahal.
2. Faktor Penghambat
a. Peralatan alat ini susah didapatkan di desa-desa yeng terpencil seperti pipa tapi ini bisa diganti dengan bambu yang sudah dulubangi serta gentong yang terbuat dari tanah liat.
b. Pemeliharaan alat ini agak susah karena memerlukan kesabaran dan kontinuitas untuk penggantian saringan setiap enam bulan sekali.
c. Alat ini telah dipasangi alat untuk desinfektan sehingga memerlukan kehati-hatian dalam memberika bahan desinfektan karena kalau tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan malah bisa berakibat fatal karena kemungkinan mikroorganisme yang ada dalam air tersebut tidak terbunuh.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Alat pengolahan air minum ini bisa digunakan oleh beberapa rumah tangga dan bisa difungsikan secara non stop selama 24 jam .
2. Alat ini mendapat respon dari pemerintah dan masyarakat.
3. Hasil pengolahan air ini cukup baik dalam menurunkan kadar zat besi ( Fe ), Calsium carbonat (CaCO3), Chlor (Cl), Mangan (Mn), bau, warna, kekeruhan dan bakteriologis sehingga kalau ingin dijadikan air minum tidak diragukan lagi.
A. Saran-Saran

1. Untuk memassalkan alat ini di di desa-desa lainnya di Sulawesi Selatan perlu dukungan dana dari pemerintah atau lembaga keuangan lainnya.
2. Dalam pengoperasian alat ini, sebaiknya pemeliharaan diutamakan, agar alat ini dapat bertahan lama dan berproduksi terus-menerus.

Rabu, 02 Januari 2008

Standar pengelolaan Hazard Kelistrikan

TUJUAN
Meyakinkan bahwa semua orang yang bekerja di Perusahaan terlindungi dari bahaya listrik.

RUANG LINGKUP
Standar ini berlaku terhadap kondisi dan penggunaan semua peralatan listrik di Perusahaan.
PERSYARATAN

1. IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN
RESIKO DAN PENGENDALIAN
Tujuan
􀂉 Meyakinkan bahwa semua instalasi listrik dan daerah berbahaya listrik yang terlarang harus diidentifikasi dandicatat dalam Buku Register Peralatan Listrik Perusahaan.
􀂉 Menerapkan proses pengelolaan resiko guna mengendalikan resiko yang berkaitan dengan instalasi listrik
􀂉 Mensyaratkan diterapkannya proses Pengelolaan Perubahan Perusahaan.

1.1 Buku Register Peralatan
Listrik - Ellipse
Suatu Buku Register Peralatan Listrik ellipse harus dibuat untuk semua departemen oleh seorang sarjana listrik yang kompeten dan mencakup semua peralatan listrik yang diidentifikasi melalui suatu risk assessment.
Catatan berikut ini harus dimasukkan dalam buku register:
1. Daftar instalasi listrik yang ada yang dinyatakan sebagai daerah terlarang,
mencakup;
􀂾 Panel listrik dan lemari listrik.
􀂾 Pusat pengendali, substation dan peralatannya.
2. Pemberian identitas mekanisme pemutus arus darurat (emergency shutoff);
􀂾 Dimana emergency stop dan saklar utama yang berfungsi sebagai isolasi sudah terpasang atau diwajibkan.
􀂾 Dimana alat proteksi oveload sudah terpasang atau diwajibkan.
􀂾 Dimana alat pemantau bocoran ke tanah (earth leakage) terpasang atau diwajibkan.
3. Menyatakan dimana orang berpotensi terpapar oleh sumber energi listrik yang berbahaya.
1.2 Penilaian Resiko
Suatu Penilaian Resiko harus dilaksanakan untuk menentukan Prosedur Spesifikasi Perlistrikan (Electrical Specification Procedure atau ESP) dan Prosedur Spesifikasi Instrumentasi (Instrumentation Spcification Procedure atau ISP) merupakan persyaratan di Perusahaan guna membuat spesifikasi bagi perlistrikan dan instrumentasi yang aman. Suatu penilaian resiko harus memberikan suatu pemeriksaan terhadap daftar ESP dan ISP yang ada saat ini untuk pengelolaan operasi dan pemeliharaan instalasi listrik di Perusahaan. Setiap kekurangan yang ditemukan dalam ESP dan ISP harus mensyaratkan pembuatan dokumen ESP atau ISP baru. Semua ESP dan ISP harus disimpan di register sentral yang dipelihara. Penilaian resiko harus mematuhi proses yang dijabarkan dalam Prosedur Penilaian Resiko Perusahaan atau proses yang dibuat untuk tujuan tertentu. Penilaian Resiko harus menilai bahaya yang berkaitan dengan operasi dan pemeliharaan instalasi dan peralatan listrik guna menentukan tindakan koreksi dan langkah pengendalian lainnya yang harus diterapkan.
1.3 Pengelolaan Perubahan
Prosedur Pengelolaan Perubahan Perusahaan harus dipatuhi ketika memberikan otorisasi untuk mengubah instalasi dan peralatan listrik, atau pelaksanaan perubahan terhadap cara yang berkaitan dengan peralatan listrik.
Terutama, penilaian resiko teknik harus termasuk di proses desain untuk semua instalasi listrik baru untuk meyakinkan semua potensi bahaya yang berhubungan dengan operasi dan perawatan instalasi listrik diidentifikasi dan diberi penilaian resiko. Semua resiko yang diidentifikasi mempunyai potensi untuk menyebabkan kematian akibat tersengat listrik, harus dikontrol sebelum instalasi listrik dilakukan atau peralatan listrik dipersiapkan atau diperbolehkan untuk digunakan.

2. SELEKSI, PELATIHAN, KOMPETENSI DAN WEWENANG
Tujuan
􀂉 Menetapkan kriteria seleksi untuk rekruitmen personel yang diperlukan untuk melakukan desain, pembelian,
pembangunan, inspeksi dan perawatan instalasi dan peralatan listrik.
􀂉 Mensyaratkan ditetapkan dan dipeliharanya sistem pelatihan dan penilaian terhadap orang-orang yang
melakakukan pekerjaan perlistrikan.
􀂉 Meyakinkan bahwa orang-orang yang diharuskan melaksanakan penilaian resiko terhadap peralatan listrik itu
kompeten.

2.1 Seleksi dan Penempatan
Personel.
Proses penilaian terhadap seleksi dan penempatan personil yang diharuskan bekerja sebagai tukang listrik atau engineer listrik, harus meyakinkan bahwa:
1. Menetapkan kriteria kesehatan secara medis dan kesehatan (misalnya penilaian terhadap buta-warna).
2. Orang-orang tersebut mempunyai kualifikasi yang relevan untuk pekerjaan membuat design, membeli, membangun, menginspeksi dan memelihara instalasi dan peralatan listrik.
3. Lulus ujian teori dan praktek perlistrikan
Sistem pelatihan dan penilaian kompetensi Perusahaan harus meyakinkan bahwa:
1. Daftar keterampilan (Skill Matrix) sudah dibuat dan menguraikan standar
kompetensi yang dipersyaratkan oleh pekerjaan untuk:
􀂾 Membuat design instalasi listrik.
􀂾 Memilih dan membeli peralatan listrik.
􀂾 Memasang instalasi listrik.
􀂾 Melakukan komisioning instalasi listrik.